SEBAGAI hamba
Allah yang baik, tentu kita menyadari betapa besar nikmat yang telah Allah
berikan kepada kita di segala kehidupan. Betapa setiap cita-cita yang kita
inginkan, setiap niat yang ada di hati sanubari, setiap keinginan yang
tertanam, dan setiap keberhasilan yang kita capai mustahil tanpa pertolongan
atau inayah dari Allah Rabbul Izzati. Artinya apa? Bahwa apa pun yang kita
lakukan, langkah apa pun yang kita kerjakan, keberhasilan yang kita capai ini
semata-mata sayangnya Allah kepada kita dan karunia Allah yang
diberikan kepada
kita.
Untuk itulah,
kita harus senantiasa bertafakur, senantiasa mensyukuri nikmat Allah dengan
meningkatkan ketakwaan kita melalui menjalankan apa yang Allah perintahkan, dan
berupaya menjauhkan apa yang dilarang-Nya. Tentu kita berharap dengan berdoa,
mudah-mudahan segala langkah perbuatan kita, hidup di alam yang fana ini
senantiasa mendapatkan ridho dari Allah SWT. Shalawat dan salam kita haturkan
keharibaan junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, juga kita selalu berharap dan
berdoa semoga kelak di yaumil kiamah syafaat dari beliau akan terlimpah kepada
kita.
Di suatu sore
Rasul berkumpul dengan para sahabat di dalam masjid sambil menunggu datangnya
waktu Ashar. Ketika sudah berkumpul para sahabat, Rasulullah mencari seseorang
di sekitarnya. Lalu Rasul berkata kepada para sahabat, ”Sebentar lagi ahli
surga akan masuk ke dalam masjid.” Para sahabat merasa terkejut, kenapa? Karena
seluruh sahabat yang dekat dan dicintai Nabi sudah berkumpul di dalam masjid.
Siapa lagi yang beliau tunggu itu.
Tidak lama
kemudian masuklah seseorang yang tidak cukup dikenal. Dia orang biasa, tidak
selalu dikenal di kalangan para sabahat karena berasal dari kampung. Para
sahabat masih berpikir mungkin ada yang lain. Ternyata ketika tiba datangnya
waktu Ashar itulah orang yang terakhir tadi. Begitu pula dengan esok harinya,
Rasulullah berkata demikian,” Sebentar lagi ahli surga akan masuk ke dalam
masjid.” Sahabat masih mengira bukan orang yang kemarin. Ternyata yang datang
terakhir ke masjid, orang yang kemarin lagi. Tiga hari berturut-turut itulah
yang terjadi, hingga pada akhirnya para sahabat yakin dialah orangnya yang
disebut ahli surga.
Di antara para
sahabat, Abdullah bin Umar agak sedikit penasaran. Siapakah gerangan orang itu?
Ibadah apa yang dilakukan sehingga Rasul mengatakan dia adalah ahli surga? Maka
setelah usai sholat Ashar, Abdullah bin Umar mengikuti orang ini tinggal untuk
melihat bagaimana ibadahnya. Hamba Allah yang dinyatakan sebagai ahli surga ini
sudah tahu kalau dia diikuti, ia berjalan meliwati gang-gang kecil sampai
akhirnya tiba di gubuk yang reyot. Menolehlah ia ke sahabat Abdullah bin Umar
dan bertanya,” Ada apa yang menyebabkan engkau mengikuti dari masjid sampai ke
rumahku?”
Abdullah bin
Umar berkata, ”Tuan saya ingin bermalam di rumah tuan.” Lalu ia menjawab,
”Bagaimana kamu bisa tidur di rumahku, sedangkan rumahku kecil dan untuk
keluargaku saja sudah susah. Jika kamu mau silahkah, tapi beginilah tempatku.”
Setelah mendapat izin, Abdullah bin Umar memerhatikan apa yang dilakukan hamba
Allah ini, kapan ia bangun tidur untuk melaksanakan shalat malam. Tapi sampai
datangnya waktu subuh, ternyata orang itu tidak bangun malam. Ketika datang
waktu subuh barulah ia bangun lalu ke masjid ikut sholat berjamaah dengan Rasul
setelah itu pulang.
Kemudian
Abdullah bin Umar berpikir, ibadahnya tidak lebih dari yang lainnya. Tapi
mungkin ada amalan-amalan lainnya. Pagi hari orang itu bekerja menempuh
perjalanan jauh. Ternyata di suatu tempat orang itu hanyalah pembuat batu.
Begitu menjelang
waktu Dhuhur, begitu pula ia lakukan menuju masjid untuk sholat berjamaah
dengan Rasul. Abdullah bin Umar yang penasaran bertanya, ”Saya ini bingung,
beberapa waktu yang lalu Rasulullah berkata sampai tiga hari berturut-turut
bahwa akan ada orang ahli surga. Tapi ibadah kamu sesuai dengan apa yang kami
lakukan. Kewajiban-kewajiban yang kami lakukan, tidak jauh berbeda. Tapi
mungkin kami dan para sahabat lainnya lebih dalam masalah ibadah.”
Hamba Allah
ini berkata, ”Mungkin ibadahku kalah dari kalian. Tapi perlu kamu tahu,
kemungkinan yang menyebabkan Rasulullah berkata seperti itu, karena suatu hal
yang aku jaga dalam hidup, pertama lidahku tidak pernah aku gunakan untuk
menyakiti orang lain. Artinya, aku tidak pernah berbuat gibah, aku tidak pernah
memfitnah, aku tidak pernah berdusta, aku tidak pernah kotori lidah ini dengan
perkataan buruk. Dan yang kedua wahai Abdullah bin Umar, hatiku tidak pernah
iri dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Bahkan aku selalu bersyukur jika
Allah memberikan karunia yang besar terhadap orang-orang yang disebelah aku.”
Ini suatu
ikhtibar betapa antara hati dengan lidah tidak bisa dipisahkan. Maka jika
kita bisa menjaga hati dengan baik, menjaga lidah dengan baik. Dan, percaya
jika hati yang bersih dari rasa takabur, ria, syirik, iri, dengki serta
penyakit hati lainnya, maka lidah secara otomatis akan menjadi baik. Itulah
sebabnya Rasul pernah memberikan gambaran iman seseorang tidak akan surut
sebelum hatinya surut. Hati tidak akan surut manakala lisannya lurus.
Kisah ini
menjadi gambaran jika disaat ini banyak ujian dan cobaan yang menimpa negara
kita, mungkin karena hati-hati kita yang kotor, ada rasa iri, syirik dan dengki
diantara kita, mungkin tidak adanya kedamaian diantara kita. Dan yakinlah
dengan hati yang bersih, doa kita akan dikabulkan oleh Allah. Subhanallah!