"Saya
bertanya kepada paman saya, Hind bin Abi Halah -yang selalu berbicara tentang
Nabi yang mulia- untuk menceritakan kepada saya berkenaan dengan Nabi, agar
kecintaan saya bertambah. Ia berkata, 'Nabi Allah sangat berwibawa dan sangat
dihormati. Wajahnya bersinar seperti purnama. Ia lebih tinggi dari orang-orang
pendek dan lebih pendek dari orang-orang jangkung.Kalau rambutnya tumbuh panjang, ia tak akan membiarkannya melewati daun
telinga. Kulit wajahnya putih dengan dahi yang lebar. Kedua alisnya panjang dan
lebat, tapi tidak bertemu. Di antara kedua alisnya, ada pembuluh darah
melintang yang tampak jelas ketika beliau marah. Ada seberkas cahaya yang
menyapu tubuhnya dari bawah ke atas, seakan-akan mengangkat tubuhnya. Jika
orang berjumpa dengannya dan tidak melihat cahaya itu, orang mungkin menduga ia
mengangkat kepalanya karena sombong.'
'Janggutnya pendek dan tebal. Lengan, bahu dan pundaknya berbulu.Langkah-langkahnya lembut. Ia berjalan cepat
seakan-akan menuruni bukit. Bila berhadapan dengan seseorang, Ia hadapkan
seluruh tubuhnya, bukan hanya kepalanya. Matanya selalu merunduk. Pandangannya
ke arah bumi lebih lama daripada pandangannya ke langit. Sesekali ia memandang
dengan pandangan sekilas. Ia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan
salam kepada orang yang ditemuinya di jalan.'"
Cara bicara Rasulullah
Kemudian Imam Hasan berkata, "Ceritakan kepadaku
cara bicaranya."
Hind bin Abi Halah berkata, "Ia selalu tampak sendu,
selalu merenung dalam, dan tidak pernah tenang. Ia banyak diamnya. Ia tidak
pernah berbicara yang tidak perlu. Ia memulai dan
menutup pembicaraannya dengan
sangat fasih. Pembicaraannya singkat dan padat, tanpa kelebihan kata-kata dan
tidak kekurangan perincian yan diperlukan. Ia berbicara lembut, tidak pernah
kasar atau menyakitkan. Ia selalu menganggap besar anugerah Tuhan betapapun
kecilnya. Ia tidak pernah mengeluhkannya. Ia juga tidak pernah mengecam atau
memuji berlebih-lebihan apapun yang ia makan
Dunia dan apapun yang ada padanya tidak pernah membuatnya
marah. Tetapi, jika hak seseorang dirampas, ia akan sangat murka sehingga tidak
seorang pun mengenalnya lagi dan tidak ada satu pun yang dapat menghalanginya
sampai ia mengembalikan hak itu kepada yang punya. Ketika menunjuk sesuatu, ia
menunjuk dengan seluruh tangannya. Ketika terpesona, ia membalikkan tangannya
ke bawah. Ketika berbicara,terkadang ia bersedekap atau merapatkan telapak
tangan kanannya pada punggung ibu jari kirinya. Ketika marah, ia palingkan
wajahnya. Ketika tersinggung, ia merunduk. Ketika ia tertawa, gigi-giginya
tampak seperti untaian butir-butir hujan es.
Imam Hasan berkata, “Saya menyembunyikan berita ini dari
Imam Husain sampai suatu saat saya menceritakan kepadanya. Ternyata ia sudah
tahu sebelumnya. Kemudian saya bertanya kepadanya tentang berita ini. Ternyata
ia telah bertanya kepada ayahnya (Imam Ali) tentang Nabi, di dalam dan di luar
rumah, cara duduknya dan penampilannya, dan ia menceritakan semuanya.”
Akhlak Rasulullah ketika masuk rumah
Imam Husain berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang
perilaku Nabi ketika ia memasuki rumahnya. Ayahku berkata, ‘Ia masuk rumah
kapan saja ia inginkan. Bila berada di rumah, ia membagi waktunya menjadi tiga
bagian; sebagian untuk Allah, sebagian untuk keluarganya, sebagian lagi untuk
dirinya. Kemudian ia membagi waktunya sendiri antara dirinya dan orang lain;
satu bagian khusus untuk sahabatnya dan bagian lainnya untuk umum. Ia tidak
menyisakan waktunya untuk kepentingan dirinya. Termasuk kebiasaannya pada
bagian yang ia lakukan untuk orang lain ialah mendahulukan atau menghormati
orang-orang yang mulia dan ia menggolongkan manusia berdasarkan keutamaannya
dalam agama. Di antara sahabatnya, ada yang mengajukan satu keperluan, dua
keperluan, atau banyak keperluan lain. Ia menyibukkan dirinya dengan keperluan
mereka. Jadi, ia menyibukkan dirinya untuk melayani mereka dan menyibukkan
mereka dengan sesuatu yang baik bagi mereka.
“Ia sering menanyakan keadaan sahabatnya dan memberi tahu
mereka apa yang patut mereka lakukan. ‘mereka
yang hadir sekarang ini harus memberitahukan kepada yang tidak hadir. Beritahukan
kepadaku orang yang tidak sanggup menyampaikan keperluannya kepadaku. Orang
yang menyampaikan kepada pihak yang berwenang keluhan seseorang yang tidak
sanggup menyampaikannya, akan Allah kokohkan kakinya pada Hari Perhitungan’.
Selain hal-hal demikan, tidak ada yang disebut-sebut dihadapannya dan tidak
akan diterimanya. Mereka datang menemui beliau untuk menuntut ilmu dan
kearifan. Mereka tidak bubar sebelum mereka menerimanya. Mereka meninggalkan
majlis Nabi sebagai pembimbing untuk orang di belakangnya.’
Akhlak Rasulullah di luar rumah
“Aku bertanya kepadanya tentang tingkah laku Nabi yang
mulia di luar rumahnya. Ia menjawab, ‘Nabi itu pendiam sampai ia merasa perlu
untuk bicara. Ia sangat ramah kepada setiap orang. Ia tidak pernah mengucilkan
seorang pun dalam pergaulannya. Ia menghormati orang yang terhormat pada setiap
kaum dan memerintahkan mereka untuk menjaganya kaumnya. Ia selalu berhati-hati
agar berperilaku yang tidak sopan atau menunjukkkan wajah yang tidak ramah
kepada mereka. Ia suka menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya dan keadaan
orang-orang di sekitar mereka, misalnya keluarganya atau tetangganya. Ia
menunjukkan yang baik itu baik dan memperkuatnya. Ia menunjukkan yang jelek itu
jelek dan melemahkannya. Ia selalu memilih yang tengah-tengah dalam segala
urusannya.’
“Ia tidak pernah lupa memperhatikan orang lain karena ia
takut mereka alpa atau berpaling dari jalan kebenaran. Ia tidak pernah
ragu-ragu dalam kebenaran dan tidak pernah melanggar batas-batasnya.
Orang-orang yang paling dekat dengannya adalah orang-orang yang paling baik. Orang
yang paling baik, dalam pandangannya, adalah orang-orang yang paling tulus
menyayangi kaum muslimin seluruhnya. Orang yang paling tinggi kedudukannya
disisinya adalah orang yang paling banyak memperhatikan dan membantu orang
lain.’”
Cara Rasulullah duduk
Imam Husain berkata, “Kemudian aku bertanya kepadanya
tentang cara Rasulullah duduk. Ia menjawab, ‘Rasulullah tidak pernah duduk atau
berdiri tanpa mengingat Allah. Ia tidak pernah memesan tempat hanya untuk
dirinya dan melarang orang lain duduk di situ. Ketika datang di tempat
pertemuan, ia duduk dimana saja tempat tersedia. Ia juga menganjurkan orang
lain untuk berbuat yang sama. Ia memberikan tempat duduk dengan cara yang sama
sehingga tidak ada orang yang merasa bahwa orang lain lebih mulia ketimbang
dia. Ketika seseorang duduk di hadapannya, ia akan tetap duduk dengan sabar
sampai orang itu berdiri atau meninggalkannya. Jika orang meminta sesuatu
kepadanya, ia akan memberikan tepat apa yang orang itu minta. Jika tidak
sanggup memenuhinya, ia akan mengucapkan kata-kata yang membahagiakan orang
itu. Semua orang senang pada akhlaknya sehingga ia seperti ayah bagi mereka dan
semua ia perlakukan dengan sama. Majlisnya adalah majlis kesabaran, kehormatan,
kejujuran dan kepercayaan. Tidak ada suara keras di dalamnyadan tidak ada
tuduhan-tuduhan yang buruk. Tidak ada kesalahan orang yang diulangi lagi di
luar majlis. Mereka yang berkumpul dalam pertemuan memperlakukan sesamanya
dengan baik dan mereka satu sama lain terikat dalam kesalehan. Mereka rendah
hati, sangat menghormati yang tua dan penyayang kepada yang muda, dermawan
kepada yang fakir, dan ramah kepada pendatang dari luar.’
Cara Rasulullah bergaul dengan sahabatnya
“Aku bertanya kepadanya bagaimana Rasulullah bergaul
dengan sahabat-sahabatnya. Ia menjawab, ‘Rasulullah ceria, selalu lembut hati,
dan ramah. Ia tidak kasar dan tidak berhati keras. Ia tidak suka
membentak-bentak. Ia tidak pernah berkata kotor, tidak suka mencari-cari
kesalahan orang, juga tidak suka memuji-muji berlebihan. Ia mengabaikan apa
yang tidak disukainya dalam perilaku orang begitu rupa sehingga orang tidak
tersinggung dan tidak putus asa. Ia menjaga dirinya untuk tidak melakukan tiga
hal: bertengkar, banyak omong, dan berbicara yang tidak ada manfaatnya. Ia juga
menghindari tiga hal dalam hubungannya dengan orang lain: mengecam orang,
mempermalukan orang, dan mengungkit-ungkit kesalahan orang. Ia tidak pernah
berkata kecuali kalau ia berharap memperoleh anugerah Tuhan. Bila ia berbicara,
pendengarnya menundukkan kepalanya, seakan-akan burung bertengger di atas
kepalanya. Baru kalau ia diam, pendengarnya berbicara. Mereka tidak pernah
berdebat di hadapannya. Jika salah seorang di antara mereka berbicara, yang
lain mendengarkannya sampai ia selesai. Mereka bergiliran untuk berbicara di
hadapannya. Ia tertawa jika sahabatnya tertawa; ia juga terkagum-kagum jika
sahabatnya terpesona. Ia sangat penyabar kalau ada orang baru bertanya atau
berkata yang tidak sopan, walaupun sahabat-sahabatnya keberatan. Ia biasanya berkata, “Jika kamu melihat orang yang memerlukan pertolongan,
bantulah ia.” Ia tidak menerima pujian kecuali dari orang yang
tulus. Ia tidak pernah menyela pembicaraan orang kecuali kalau orang itu
melampaui batas. Ia menghentikan pembicaraannya atau berdiri meninggalkannya.’
Diamnya
Rasulullah
“Kemudian aku
bertanya padanya tentang diamnya Nabi. Ia berkata, ‘Diamnya Nabi karena empat
hal: karena kesabaran, kehati-hatian, pertimbangan, dan perenungan. Berkaitan
dengan pertimbangan, ia lakukan untuk melihat dan mendengarkan orang secara
sama. Berkaitan dengan perenungan, ia lakukan untuk memilah yang tersisa
(bermanfaat) dan yang binasa (yang tidak bermanfaat). Ia gabungkan kesabaran
dengan lapang-dada. Tidak ada yang membuatnya marah sampai kehilangan kendali
diri. Ia berhati-hati dalam empat hal: dalam melakukan perbuatan baik sehingga
orang dapat menirunya; dalam meninggalkan keburukan sehingga orang berhenti
melakukannya; dalam mengambil keputusan yang memperbaiki ummatnya; dan dalam
melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat.”
(Ma’ani Al Akhbar 83; ‘Uyun Al Akhbar Al Ridha 1:246; Ibnu Katsir, Al
Shirah Nabawiyah 2:601;
lihat Thabathabai,Sunan Al Nabi SAW 102-105).
Sumber : http://majlisdzikrullahpekojan.org