Salaf yang sholeh atau Salafush Sholeh , kaum muslim pada umumnya sudah
paham yakni para Sahabat, para Tabi’in dan para Tabi’ut Tabi’in
Sedangkan Salafi adalah saudara-saudara muslim kita yang menisbatkan pada
manhaj /mazhab Salaf
Mazhab/manhaj Salaf walaupun namanya terkait Salaf (terdahulu) namun
sebenarnya adalah perkara baru yang tidak pernah dikatakan oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam maupun para Salafush Sholeh.
Hal ini ada di jelaskan di dalam beberapa tulisan di blog
http://mutiarajuhud.wordpress.com
Adakah manhaj salaf
Ikutilah orang-sholeh
Mengapa harus salafi
Istilah yang menyesatkan
Boleh jadi fitnah .
Ikutilah orang-sholeh
Mengapa harus salafi
Istilah yang menyesatkan
Boleh jadi fitnah .
Manhaj/Mazhab Salaf adalah jalan/cara yang dipahami oleh segilintir ulama
yang berupaya memahami lafazh / tulisan ulama Salaf yang Sholeh namun pemahaman
segelintir ulama tersebut bisa benar dan bisa pula salah
Ulama yang menggagas adanya mazhab/manhaj Salaf salah satunya adalah ulama
Ibnu Taimiyah
Beliau berfatwa,
“Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]
“Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]
Ini adalah sebuah kesalahpahaman karena para Salafush Sholeh tidak pernah
mengatakan adanya mazhab atau manhaj Salaf dan para Salafush Sholeh tentu paham
bahwa hal yang pasti benar hanyalah lafazh/nash Al Qur’an dan Hadits.
Perkembangan pemahaman ulama Ibnu Taimiyah kami uraikan dalam tulisan pada Artikel :
Pemahaman Syeh ibnu taimiyah
Pemahaman Syeh ibnu taimiyah
Perkembangan salafi di Indonesia, akan di jelaskan dalam Beberapa Artikel :
Salafi adalah mereka yang berupaya mengikuti Salafush Sholeh. Keberhasilan
upaya mereka seharusnya terwujud dalam kesholehan atau akhlakul karimah
Mereka dikatakan sebagai Salafush sholeh karena mereka telah mencapai
kesholehan.
Setiap muslim yang mencapai kesholehan termasuk kedalam Firqatun
Najiyah (golongan yang selamat).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan ciri-ciri manusia
yang termasuk ke dalam firqatun najiyah (yang artinya) “Mereka adalah
orang-orang yang keadaannya sentiasa berada di atas jalanku dan jalan para
sahabatku“. Mereka yang istiqomah pada jalan Rasulullah yakni jalan Allah
yang lurus, jalan orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah Azza wa
Jalla.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan:
“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau mem-baca firman Allah, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)
“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau mem-baca firman Allah, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153) (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)
Muslim yang telah mencapai kesholehan adalah indikasi mereka telah
mengikuti jalan Allah ta’ala. Mereka salah satu dari 4 golongan manusia
yang disisi Allah Azza wa Jalla yakni para Nabi, para Shiddiqin, para
Syuhada dan orang-orang sholeh.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )
” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )
” (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )
Ulama khalaf (ulama kemudian) dapat pula mencapai derajat sebagaimana ulama
salaf (ulama terdahulu) asalkan dapat mencapai kesholehan. Jadi boleh saja ada
ulama khalaf yang sholeh.
Generasi terbaik tidak terbatas hanya pada tiga generasi pertama namun
diiikuti generasi-generasi berikutnya bagi mereka yang bersaksi bahwa “Muhammad
adalah utusan Allah”.
Ini terkait dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “kuntum khayra ummatin
ukhrijat lilnnaasi“, “Kamu (umat Rasulullah) adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia” (QS Ali Imran [3]:110 ).
Derajat manusia tidak tergantung kapan mereka hidup atau kapan mereka
dilahirkan namun semua itu tergantung dengan ketaqwaan kita kepada Allah Azza
wa Jalla.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal“. (QS al Hujurat [49]:13 )
Indikator ketaqwaan adalah terwujud dalam kesholehan atau akhlakul
karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang Ihsan.
Tentang Ihsan atau tentang akhak yang terurai pada kitab-kitab klasik
tasawuf dan disusun oleh ulama-ulama Sufi adalah puncak dari Risalah yang
dibawa oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah)
untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Oleh karenanya yang kita ikuti adalah Salaf yang sholeh begitupula kita
boleh mengikuti Khalaf yang sholeh.
Muslim yang berakhlak baik adalah muslim yang Ihsan (muhsin/muhsinin) atau
muslim yang sholeh (sholihin), muslim yang melihat Allah Azza wa Jalla dengan
hati atau hakikat keimanan atau minimal muslim yang meyakini bahwa Allah Azza
wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan manusia.
Dia (malaikat Jibril) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘
Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika
kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim)
http://www.indoquran.com
http://www.indoquran.com
“Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu
menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)
“Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu
merasakan kehadiranNya.
“Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. “
Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu.
Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran.
Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan” (HR. Tirmidzi)
“Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. “
Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu.
Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran.
Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan” (HR. Tirmidzi)
“Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus
hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)
”Musllim yang bagaimana yang paling baik?” Seorang lelaki bertanya
pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
“Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya”
Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Kami akhiri tulisan kali ini dengan menyampaikan perkataan seorang ulama
khalaf yang sholeh dan mendalami tasawuf menerangkan kepada kami salah satu
cara memaknai perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Muutu qabla an
tamuutu”, matilah sebelum mati
“Sebelum anda meninggal dunia, cobalah mematikan diri anda sejenak.
Tutuplah kedua mata anda dan bayangkan jenazah anda sedang berada di atas
keranda mayat diiringi oleh para pengantar jenazah. Keadaan bagaimana yang anda
inginkan setelah anda mati, maka jadilah seperti yang anda inginkan di saat
anda hidup sekarang ini.
Perbaikilah kesalahan anda, perbaikilah tingkah laku anda, bertaubatlah di
atas segala perbuatan maksiat anda, bukalah lembaran baru kehidupan anda dengan
perjalanan hidup dan budi pekerti yang baik.
Cucilah hati anda dari kedengkian dan bersihkanlah dari pengkhianatan. Kelak
anda akan mengingat apa yang telah anda lakukan karena makhluk-makhluk ibarat
pena Allah ta’ala dan seluruh manusia adalah saksi Allah ta’ala di bumiNya.
Jika mereka bersaksi dengan memuji anda, maka itu adalah khabar baik buat
anda dan kesaksian ini diterima di sisi Allah yang Maha Esa. Namun jika mereka
bersaksi dengan menyebutkan keburukan anda, maka anda sangat merugi di atas apa
yang sedang menanti anda“
Sumber : http://mutiarajuhud.wordpress.com